Register
Headlines
LSDP 12 PDF Cetak Email
Selasa, 02 Desember 2014 00:04

Belajar tentang sastra dan apresiasi sastra bisa jadi masih dipan­dang sebagai sesuatu yang mengawang dan tidak membumi. Sementara, di dalam karya sastra terdapat banyak nilai yang dapat membangun harkat dan martabat bangsa. Bahkan, sastra menumbuhkan rasa cinta tanah air dan bangga sebagai bangsa; mentalitas yang sangat diperlukan dalam ‘pertarungan antar peradaban’ pada era globalisasi seperti sekarang ini. Selain itu, apresiasi sastra juga sangat efektif untuk menghidupkan kepekaan pikir dan emosi seseorang. Dua hal di atas menjadi penting dalam konteks menciptakan generasi Indonesia yang berkarter, mencintai kebudayaan, dan berkesadaran nasional.

 
Kunjungan dari Peserta Peace Leaders Camp PDF Cetak Email
Rabu, 12 November 2014 18:42

Tanggal 25 Oktober 2014, Komunitas Matapena menerima kunjungan dari peserta peace leaders camp yang diselenggarakan oleh Search for Common Ground di Yogyakarta. Mereka adalah duapuluh lima pemuda yang berasal dari perwakilan berbagai daerah di Indonesia, datang dari agama, adat-istiadat, dan latar belakang pendidikan yang beragam.

Dalam kunjungan tersebut Pijer Sri Laswiji dan Halimah Garnasih selaku penjaga Rumah Kreatif Komunitas Matapena berkesempatan menyambut. Pada kesempatan itu Pijer menceritakan sejarah cikal bakal dan perjuangan terbentuknya Komunitas Matapena. “Matapena hadir dan mengajak remaja khususnya yang berada di pesantren untuk menulis dan memiliki kesadaran bahwa banyak kearifan lokal disekitar kita yang bisa diangkat dalam tulisan,” ungkap Pijer. Selain itu, ia juga berbagi tentang program Matapena dan cara pengelolaan komunitas yang selama ini telah dilakukan.

Sedang Halimah berbagi lebih dalam tentang kegiatan pelatihan dan pendampingan yang menjadi fokus kerjanya. Seperti SMS (Sinau Menulis Sampeiso), bedah bakal novel dan novel, jurnalistik anak, pelatihan jurnalistik, workshop, dan LSdP (Liburan Sastra di Pesantren). “Baru-baru ini kami ke Malang, selain sharing menulis bareng mahasiswa di UIN (Universitas Islam Negeri) Maulana Malik Ibrahim, kami juga menyempatkan diri sharing bareng sam (mahasiswa atau santri putra)  dan sila (mahasiswi atau santri putri) di STAB (Sekolah Tinggi Agama Budha),” cerita Halimah pada mereka yang diantaranya adalah delegasi dari GMNI, PMII, dan Gusdurian daerah masing-masing.

 

 
Pintu Gerbang PDF Cetak Email
Rabu, 22 Oktober 2014 15:32

 

Pintu gerbang rumah itu terbuka. Pikirmu, apa menariknya sebuah pintu gerbang terbuka? Toh sudah biasa pintu gerbang terbuka dan memang pada saat tertentu ia pasti akan dibuka.

Apa menariknya juga kita membicarakan pintu gerbang terbuka itu? Bukankah ia hanya sebuah simbol dari status sosial keluarga yang tinggal di dalamnya? Meski kadang, karena keinginan dan hasrat besar, tidak sedikit para pemilik rumah membangun pintu gerbang melebihi harga sebuah rumah sederhana ala KPR. Fungsinya pun bukan lagi semata-mata untuk keamanan. Pintu gerbang seperti hendak menunjukkan di level mana status sosial penghuninya berada.

Pintu gerbang lebih dari soal keamanan pemilik rumah. Pintu gerbang adalah soal kepantasan. Ia mereferensi sebuah karakter para penghuni rumahnya. Pintu gerbang adalah sebuah representasi kehadiran paling awal dari psikososial dan ekspresi rumit dunia batin mereka yang tinggal di dalamnya. Semakin tinggi dan gagah sebuah pintu gerbang, semakin mendorong masyarakat di luarnya untuk merumuskan pandangan sosial kepada para penghuni di dalamnya. Pintu gerbang biasa-biasa saja seperti merepresentasi penghuni di dalamnya sebagai kelompok sosial biasa pula.

 
<< Mulai < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Berita

Mengikuti Muslim Exchange Program ke Australia

Nor Ismah bersama empat orang kader muda NU mengikuti program Australia-Indonesia Muslim Exchange (MEP) di Australia selama dua pekan. Mereka adalah Siti Tarawiyah, pengurus Fatayat wilayah Kalimantan Selatan, Sukron Makmun dari Ansor Cabang Salatiga, Ikfina Maufuriyah, salah seorang dewan guru pondok pesantren Hasyim Asy’ari, dan Zahrul Fata pengelola, salah satu pesantren di Jombang. Mereka meninggalkan Jakarta pada Ahad, 30 Maret 2014, dan akan tiba kembali di Indonesia pada Senin, 14 April 2014.

“Saya banyak mendapatkan inspirasi terkait program-program dan kegiatan untuk remaja, khususnya dalam hal dialog antar agama dan memahami perbedaan,” jelas Ikfina Maufuriyah dengan nada senang. Saat ini ia bersama teman-teman di Jepara dari berbagai background agama, etnis, dan budaya, tengah menginisiasi komunitas antaragama.

Para peserta mendapat kesempatan bertemu komunitas muslim, pemeluk Kristen, Yahudi dan Buddha, organisasi yang bergerak di bidang interfaith dialog, beberapa universitas dan sekolah-sekolah muslim selama di Australia. Perjalanan dimulai dari Melbourne, Shepparton, Canberra, dan berakhir di Sydney. Ketika di Melbourne, setiap peserta mendapat kesempatan untuk tinggal selama semalam bersama host family yang berbeda-beda, sehingga mereka bisa melihat lebih dekat kehidupan Muslim dan umat beragama lainnya di Australia. selengkapnya...

Tanya Jawab

di kmunitas mtapna apa ada kgiatan platihan menulis? soalnya sya ingin belajar jdi pnulis tpi blum tau cara2nya. sya aslnya dri blitar tp skrang blajar di jember, kalau sya mau jdi anggota matapena, saya rayonnya mlih yang mana?
assalamu'alaikum maaf saya punya kartu anggota matapena.. tapi yang saya tanyakan, saya kok buta informasi tentang matapena? terimakasih

FB FanPage



Celoteh Kang Fikri

Matapena Program

Subscribe

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini78
mod_vvisit_counterMinggu ini78
mod_vvisit_counterBulan ini3107
mod_vvisit_counterTotal65918

Jajak Pendapat

Tanggapan Anda tentang Matapena
 

Video Galeri

Twitter

Galeri Kegiatan